| "Tidak ada diskon akhir tahun untuk tiket AFF Cup" |
Di saat masyarakat bangsa ini ingin bersatu di Piala AFF 2010, harus ada penghalang bernama kenaikan harga tiket. Tak ada diskon seperti harga baju-baju di mall!
Kita lihat bagaimana fluktuasi harga tiket pertandingan Indonesia sejak babak penyisihan hingga semifinal, lalu final, memang seperti harga sembako menjelang tahun baru.
Perubahan harga tiket AFF Cup di Indonesia
| Kategori Tiket | Babak Grup | Semifinal |
|---|---|---|
| Kategori 3 | Rp 50 ribu | Rp 50 ribu |
| Kategori 2 | Rp 75 ribu | Rp 100 ribu |
| Kategori 1 | Rp 100 ribu | Rp 150 ribu |
| VIP Timur | Rp 150 ribu | Rp 250 ribu |
| VIP Barat | Rp 200 ribu | Rp 350 ribu |
| VVIP | Rp 250 ribu | Rp 500 ribu |
Di babak grup, seluruh tiket laga Indonesia laris manis. Laga pertama Indonesia vs Malaysia dihadiri 62.000 penonton. Indonesia vs Laos 70.000 penonton, dan Indonesia vs Thailand 65.000 penonton.
Tuan rumah yang lain, Vietnam di Grup B, menghargai tiket babak grup/penyisihan jauh lebih murah. Dengan tiket yang lebih murah dan kapasitas stadion My Dinh yang hanya 40.000 penonton, tentu Vietnam tidak akan meraup laba sebesar Indonesia.
Harga tiket babak penyisihan AFF Cup di Vietnam:
Kelas 3: Rp 25 ribu
Kelas 2: Rp 50 ribu
Kelas 1: Rp 75 ribu
VIP: Rp 90 ribu
** dengan kurs: 1 Dong Vietnam = Rp 0,5
Sekedar catatan, AFF memberi subsidi 250 ribu USD, atau Rp 2 miliar lebih untuk tuan rumah babak penyisihan. Jadi Indonesia dan Vietnam sebetulnya sama-sama dapat subsidi.
Hanya saja, Vietnam bisa menekan harga dengan subsidi tersebut, sementara Indonesia tetap memberi 'harga pasar'.
Harga Tiket Semifinal
Memasuki babak semifinal, tidak ada lagi subsidi dari AFF. Indonesia, Vietnam, dan Malaysia menetapkan harga tiket yang nyaris serupa. Bedanya, Indonesia banyak memiliki varian tiket kelas eksklusif yang lebih mahal.
Perbandingan Harga Tiket Semifinal AFF Cup:
| Laga Semifinal | Stadion | Kategori Tiket | Harga Tiket |
|---|---|---|---|
| Malaysia vs Vietnam | Bukit Jalil Std Penonton: 53 ribu | Tribun Terbuka Tribun Tertutup Anak-anak | Rp 60 ribu Rp 120 ribu Rp 15 ribu |
| Vietnam vs Malaysia | My Dinh Std. Penonton: 40 ribu | Kelas 3 Kelas 2 Kelas 1 VIP | Rp 50 ribu Rp 100 ribu Rp 150 ribu Rp 200 ribu |
| Indonesia vs Phillipina | GBK Std. Penonton: Leg 1: 70 ribu Leg 2: 88 ribu | Kategori 3 Kategori 2 Kategori 1 VIP Timur VIP Barat VVIP | Rp 50 ribu Rp 100 ribu Rp 150 ribu Rp 250 ribu Rp 350 ribu Rp 500 ribu |
Walaupun tiket termurah di Indonesia masih Rp 50.000 (sama seperti babak grup), kenaikan harga secara umum mendapat banyak keluhan. Apalagi PSSI mendapat 'hadiah' dengan menjadi tuan rumah 2x dikarenakan Philipina tidak punya stadion layak.
Dengan menjadi tuan rumah 2x, maka 2x pula kita bisa mendapat hasil penjualan tiket. PSSI hanya menanggung akomodasi Philiipina, tanpa harus berbagi hasil dari pemasukan tiket.
"Seluruh hasil penjualan tiket menjadi milik kita,"
Itu kata Nugraha Besoes. Siapa yang dia maksud dengan 'kita'? Dia dan gerombolannya, atau masyarakat sepakbola Indonesia?
![]() |
| "Bagi-bagi dong, bos!" |
Jika seluruh hasil penjualan tiket milik kita, seharusnya suporter juga mendapat 'bagian' dari keuntungan dua kali sebagai tuan rumah semifinal, berupa harga tiket yang lebih murah.
Harga Tiket Final AFF Cup 2010
Masih belum puas, harga tiket final juga dinaikkan. Terutama untuk tiket kategori menengah ke atas, bahkan tiket VVIP menembus angka Rp 1 juta. Bandingkan dengan tiket final yang dijual Malaysia.
Perbandingan Harga Tiket Final Indonesia & Malaysia
| Laga Final | Stadion | Kategori Tiket | Harga Tiket |
|---|---|---|---|
| Malaysia vs Indonesia | Bukit Jalil Std Kapasitas: 90 ribu | Tribun Terbuka Tribun Tertutup Anak-anak | Rp 90 ribu Rp 150 ribu Rp 15 ribu |
| Indonesia vs Malaysia | GBK Std. Kapasitas: 88 ribu | Kategori 3 Kategori 2 Kategori 1 VIP Timur VIP Barat VVIP | Rp 50 ribu Rp 150 ribu Rp 200 ribu Rp 350 ribu Rp 500 ribu Rp 1 juta |
Kenaikan tarif yang sangat signifikan hanya bisa dibeli oleh suporter berduit lebih. Satu tiket 'kategori 1' laga final, nilainya sama dengan dua tiket babak penyisihan untuk kategori yang sama.
Katakanlah harga tiket hampir sama dengan Malaysia, tapi...
Penting dicatat bahwa pendapatan per kapita Indonesia (2800 USD) belum sebesar Malaysia (7500 USD). Dengan pendapatan per kapita yang demikian, tentu harga tiket final di Indonesia terasa mahal bagi orang Indonesia, sebaliknya di Malaysia.
Di Malaysia, harga tiket tertinggi hanya sekitar Rp 150 ribu. Beruntung WNI yang tinggal di sana, mereka mendapat jatah 15 ribu tiket dari federasi sepakbola Malaysia, dan mendapat harga yang lebih layak daripada di negerinya sendiri!
Alasan PSSI Menaikkan Harga Tiket
Kalau memang harus mahal harganya, sebaiknya ada alasan yang tepat. Inilah dua alasan yang dikatakan PSSI lewat Nugraha Besoes:
1. Adanya peningkatan kualitas pertandingan
2. Karena tingginya antusiasme penonton
Alasan yang sebetulnya masuk akal, karena di turnamen mana pun harga tiket final pasti lebih mahal. Tapi menjadi tidak bijak jika mempertimbangkan beberapa situasi berikut:
- Harga tiket babak penyisihan tidak murah meski AFF memberi subsidi sebagai tuan rumah.
- Harga tiket semifinal dinaikkan meski Indonesia menjadi tuan rumah 2x
- Sudah meraup banyak pemasukan, tiket final kembali dinaikkan. Seolah PSSI hanya ingin mencari laba dari antusiasme penonton, tanpa memperhatikan perasaan para suporter yang tengah ber-euforia dan kondisi aktual masyarakat Indonesia.
Suporter Indonesia sudah memberi dukungan total, sebagian besar sesungguhnya tidak peduli mau membayar berapa pun untuk mendukung timnas. Tapi jika kemudian antusiasme ini dieksploitasi berlebihan, siapa yang tidak muak?
Lalu Kemana Pemasukan Tiket Mengalir?
Wajar muncul kecurigaan. Pasalnya, lembaga PSSI kadung bereputasi buruk di mata publik. Dan mereka tidak transparan dalam menjelaskan hasil pemasukan tiket Piala AFF ini.
Nurdin Halid pernah mengatakan, total pemasukan dari penjualan tiket dua laga semifinal saja sudah mencapai Rp 14 miliar. Di babak penyisihan, pemasukan dari tiket hanya Rp 7 miliar. Jadi, total pemasukan hingga sebelum final adalah Rp 21 miliar.
Pemasukan tersebut dipakai untuk membiayai pertandingan sebesar Rp 10 miliar, dengan rincian: Rp 6 miliar untuk pertandingan penyisihan + Rp 4 miliar untuk dua laga semifinal.
Rp 21 miliar - Rp 10 miliar = sisa Rp 11 miliar
Anehnya,
Nurdin mengatakan sisa hasil penjualan tiket 'hanya' Rp 3 miliar.
Anehnya lagi, berbeda dengan penjelasan Nurdin, bendahara PSSI Aksanul Kosasih mengatakan bahwa panpel hanya mengeluarkan dana Rp 5,8 miliar untuk penyelenggaraan pertandingan. Jika yang benar adalah versi bendahara PSSI, sisanya malah lebih dari Rp 15 miliar.
Sebagai gambaran hitung-hitungan pemasukan dan biaya operasional, simak pernyataan Joko Driyono, ketua panitia pertandingan (LOC):
"Untuk babak final di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 29 Desember mendatang, panitia memproyeksikan pemasukan sekitar Rp 10,5 M. Untuk final, estimasi biaya operasional antara tiga sampai 3,5 miliar,"
Surplus besar,
Berapapun jumlahnya, kemana uang itu pantas jadi pertanyaan...
Mungkin untuk bonus pemain?
Aburizal Bakrie secara tegas mengatakan total bonus yang akan diberikan kepada timnas Rp 5,5 miliar berasal dari keluarganya.
"Betul sekali, semua dari keluarga kami", katanya.
Jadi untuk siapa?
Tidak ada jawaban jelas.
"Untuk siapa nanti keuntungan itu? Itu terserah PSSI mau diapakan. Karena sebagai panitia kami hanya menerima uang itu dan memberikannya kepada PSSI,"
(Joko Driyono)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar